
Rabu, 23 September 2009
Selasa, 16 Juni 2009
PENGUMUMAN PELELANGAN UMUM

DINAS PETERNAKAN
WAINGAPU
PENGUMUMAN PELELANGAN UMUM
Nomor: 39/PPB/Disnak/VI/2009
Tanggal 16 Juni 2009
paket pengadaan barang sebagai berikut:
1. Paket Pengadaan:
Paket 1 : Pengadaan Peralatan IB
Pagu Anggaran : Rp. 55.000.000,-
Sumber Dana : APBN
Paket 2 : Pengadaan Ternak Sapi dan Kerbau
Pagu Anggaran : Rp. 791.000.000,-
Sumber Dana : APBD Kabupaten Sumba Timur
2. Persyaratan Peserta:
- Pengadaan Peralatan IB : 5231
- Pengadaan Ternak : 5121
3. Jadwal Pelaksanaan Pengadaan:
Tanggal : 17 Juni 2009 s/d 28 Juni 2009
Pemasukan Dokumen Penawaran: Batas akhir, Senin, 29 Juni 2009, Jam 09.00 Wita.
Ketua Panitia
Drh. ManuelA. Kitu
NIP. 010 253 729
Sekretaris Panitia
Ttd
Christofel M.Umbu Pati, ST
NIP. 620 029 195
Senin, 15 Juni 2009
PENGUMUMAN PELELANGAN UMUM
PEMERINTAH KABUPATEN SUMBA TIMUR
DINAS PETERNAKAN
Jln. Jend. Soeharto No. Telp. (0387) 61449 Fax. (0387) 61449
WAINGAPU
PENGUMUMAN PELELANGAN UMUM
Nomor: 39/PPB/Disnak/VI/2009
Tanggal 16 Juni 2009
Satuan Kerja Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur akan melelangkan paket pengadaan barang sebagai berikut:
1. Paket Pengadaan:
- Paket : Pengadaan Peralatan IB
- Paket 2 : Pengadaan Ternak Sapi dan Kerbau
Sumber Dana : APBD Kabupaten Sumba Timur
2. Persyaratan Peserta:
Memiliki Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) Kualifikasi Kecil dengan rincian KBLI sebagai berikut :
- Pengadaan Peralatan IB : 5231
- Pengadaan Ternak : 5121
3. Jadwal Pelaksanaan Pengadaan:
Pendaftaran dan pengambilan Dokumen Pemilihan:
Tempat dan alamat : Kantor Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur
Tanggal : 17 Juni 2009 s/d 28 Juni 2009
Penjelasan (aanwijzing): Senin 22 Juni 2009, Jam 09.00 s/d 12.00 Wita
Pemasukan Dokumen Penawaran: Batas akhir Senin, 29 Juni 2009, Jam 09.00 Wita.
4. Pendaftaran dapat diwakilkan dengan membawa surat kuasa dan menunjukkan SIUP sesuai KBLI paket yang akan diikuti.
Ketua Panitia Sekretaris Panitia
Ttd Ttd
Drh. ManuelA. Kitu Christofel M.Umbu Pati, ST
NIP. 010 253 729 NIP. 620 029 195
Rabu, 20 Agustus 2008
Hujan turun deras mengganas
Air mengalir ditanah bercadas keras
Tunas timbul, muncul dan tersembul
Hijau sabanaku, kenyang ternakku melenggang pulang
Panas terik kering mencekik
Debu mengganggu kemarau menyapu
Alangku layu, lemah, luruh ke tanah
Kuning sabanaku, resah ternakku gundah menyerah rebah
Api menjilati lembah dengan amarah
Asap mengepul dari bukit yang gundul
Tak ada lagi alang, sudah menghilang
Hitam sabanaku, mengerag ternakku berkubang arang alang
Selalu begitu sabanaku
Hijau, kuning dan hitam
Selalu begitu sabanaku
(by sumba_03 di Hari Pahlawan 03)
PUISI TENTANG SUMBA
Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bila mana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga
Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari 'kan terbit dari laut
Dan angin zat-asam panas mulai dikipas dari sana
Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa-nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak berkata, namanya Sumba
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah-padam, membenam di ufuk yang teduh
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
(Dikutip dari Tonggak 2: Antologi Puisi Indonesia Modern,
editor: Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987, hal. 260-261)
Selasa, 12 Agustus 2008
Kisah yang Tercecer

Kisah yang Tercecer
Kisah orang Sumba telah diawali beberapa abad yang lalu. Menurut buku Injil dan Marapu karya FD Wellem, Pulau Sumba yang sejak dulu dikenal sebagai Pulau Cendana ini sudah masuk dalam catatan sejarah Majapahit.
Tak kurang dari Empu Prapanca dalam kitabnya, Negara Kertagama menuliskan, ”Di sebelah Timur tanah Jawa terdapat tanah jajahan: semua kepulauan Makassar serta Buton, Banggawi Kunir, Galian serta Salaya, Sumba, Solor, Muar, Timor, beserta pelbagai pulau yang penting.”
Kisah tentang nenek moyang orang Sumba ini termuat dalam Li'i Marapu, rangkaian kisah yang tersusun bak pantun. Umbu Rauta di senja yang sudah semakin tua menuturkan kisah tersebut kepada Kompas di Desa Makatakeri.
Dia berkisah; Bodu bolung malaka tana barah yang diartikan, Malaka tanah besar, ngaba lingu lauru (laut yang bergolak yang diartikan Selat Malaka), pada gaja bani, loda ranga buasu (yang diartikan sampai di tanah Sumatera yang penuh binatang buas), mawu mudi paita (kerajaan Majapahit), lalu ketika sampai di Bali syairnya adalah Bali wongu mata atau Bali mata kocak. Perjalanan mencapai Bima diuraikan sebagai Bima yang orang-orangnya rambutnya berdiri (Bima dedi logi).
Kisah tersebut menyebutkan Labuan Bajo, Ende, yang kemudian berakhir di Tanjung Sasar (baca Tanjung Hahar) dengan ungkapan Nguju nala sasar, dan ditutup dengan sebuah catatan, pitu dani lauru-waludani awang yang diartikan, mengarungi delapan samudra, melintasi delapan langit. Leluhur ini lalu membangun perkampungan di lokasi yang kini dikenal sebagai Kampung Wunga, Desa Wunga. Itulah kisah Kampung Wunga.
Kisah dari Anakalang
Sementara itu, warga Anakalang punya kisah lain, yaitu soal batu kubur Resimoni (baca Rehimoni) yang disepakati oleh raja-raja Sumba sebagai batu kubur terbesar yang menandai makam raja pertama Umbu Sappi Pateduk. Resi berarti lebih, moni berarti laki-laki.
”Pemotongan batu dilakukan tahun 1939 hingga 1940. Menarik batu dari Desa Wailawa sekitar tiga kilometer dari kampung ini, selama satu setengah bulan,” tutur Umbu Rauta. Untuk menggerakkan batu seberat 40 ton itu, dibutuhkan tenaga 10.000 orang. Jika batu tidak bisa bergerak, batu ditinggalkan begitu saja, bisa sampai empat hari, sebelum didorong lagi. Untuk memberi makan para pendorong batu total dipotong 300 hewan besar.
Ketika Umbu Sawola dari Kampung Gulabakul membawa batu kubur lebih besar, batu tersebut patah di tengah jalan. Sudah ada Resimoni, tidak boleh ada yang lebih besar.
Selain kisah itu, Umbu Sangaji pada kesempatan berbeda, yaitu pada Jumat (14/10) malam di hutan, menuturkan kisah orang Anakalang. Sebenarnya kini ada kerinduan untuk diadakan lagi upacara Purung Ta Kadonga, di mana semua rato (pendoa kepercayaan Marapu) atau pemimpin adat, mungkin sekarang sudah bertransformasi menjadi pemimpin keluarga, berkumpul untuk meminta berkah.
”Di kesempatan itu, kekayaan Anakalang, warisan dari leluhur, dikeluarkan dan dirawat,” ujarnya. Semua pendoa Marapu turut merawat dan memandikan warisan dari leluhur itu, yang utama adalah dua buah emas.
Menurut Umbu Sangaji emas itu berbentuk bulat panjang— yang satu lebih panjang dari yang lain. Yang lebih panjang disebut Umbu Sudi, yang lebih pendek disebut Rambu Tarebi (Teribi). Umbu Sudi dan Rambu Tarebi adalah pasangan leluhur yang menurunkan warga Anakalang. ”Di manakah sekarang benda-benda itu? Tak ada yang tahu, karena sudah tidak ada lagi upacara sepeninggal Umbu Sawola tahun 1982. Kini tidak ada yang tahu lagi, barang itu di mana. Itu milik semua orang Anakalang,” ujar Umbu Sangaji bernada getir. Angin malam terasa menggigit kulit.... (ISW)



